Minggu, 13 September 2020

Q&A Al-Qur'an (Part 2).


 

1. Dede Nurwanto/Indramayu, Jabar /SMK PGRI KAMAL Juntinyuat/Guru Pertanyaan:

Dalam cerita tadi kan dijelaskan bahwa seorang yg non-muslim membaca 3 surat dari halaman ke halaman. Yang saya ingin tanya kan adalah surat apa saja yang dibaca oleh seorang non muslim tersebut sehingga ia bersujud dan masuk Islam?

Terimakasih waasalamualaikum

Jawaban: 

Semoga Allah memuliakanmu Pak guru baik di dunia maupun di akhirat atas jasa mencetak peradaban. Memang di kitabnya tidak disebutkan Pak, tapi ana mengira beliau mulai baca dari fatihatul kitab atau pembukaan al-fatihah, kemudian lanjut ke al-Baqarah, lalu Ali-'Imran. Jika wanita non muslim tersebut nashrani pada Ali-'Imran di singgung lumayan panjang tentang Maryam, bahkan nama suratnya saja nama keluarga Maryam yaitu bapaknya, karna dekat sekali antara nashrani/ kristen dengan Islam, seperti dekatnya zaman Nabi Muhammad dengan Raja Najasyi yg nashrani kemudian masuk Islam. Semoga terjawab pak Guru, salam ta'dzim.

2. Nurfadilah/Cilacap, Jateng/MAN 2 CILACAP 

  Pertanyaan:

Bagaimana cara kita agar bisa senantiasa konsisten atau istiqamah dalam mempelajari al-Qur'an?

Jawaban:

Ketahui keutamaan-keutamaan membaca al-Qur'an, seperti.. setiap hurufnya dibalas dengan satu pahala, akan menjadi syafa'at untuk yang menbacanya kelak, menjadi penerang rumah sebgaimana hadist Nabi shalat dan tilawah akan menerangi rumah, sebaik-baik orang yang mempelajari al-Qur'an, bacalah al- Qur'an serta naiklah karna nanti kedudukanmu sesuai ayat yang kau baca, dll.  

3. Cep Sujana/Jawa Barat

   Pertanyaan:

Alhamdulillah seluruh pembahasan dapat saya pahami dengan izin allah Swt.

Namun saya mau bertanya tentang manhaj menghafal ayat suci al-Qur’an, apakah ada manhaj paling khusus yang diajarkan Nabi Saw atau para mujahidin setelah Nabi saw atau pula yg mashur yang sering diamalkan oleh mayoritas ulama baik ulama mutaqoddimin ataupun ulama mutakhirin.

Jawaban:

Sependek pengetahuan kami, tidak ada manhaj khusus dalam menghafal al-Qur’an. Jika kita coba melihat sejarah awal keislaman, rasulullah, para sahabat dan generasi seterusnya menggunakan cara talaqqi yakni menirukan secara langsung bacaan yang dibacakan oleh guru. Di zaman kita sekarang ini banyak cara yang disusun oleh para ‘ulama sebagai bentuk ikhtiar untuk membantu memudahkan kaum muslimin dalam mempelajari ak-Qur’an. Insyaa Allah semuanya baik, tinggal kitanya saja yang mau menggunakan metode yang mana secara sungguh-sungguh dan konsisten. Insyaa Allah akan Allah mudahkan. Wallahu a’lam.

4. Ika Dewi Kumalasari/Mojokerto, Jatim/Institut KH Abdul Chalim 

Pertanyaan:

Mungkin untuk orang yang sudah terbiasa atau sudah lama mempelajari al-Qur'an pasti mudah untuk menemukan atau memulai untuk menemukan mutiara dalam al- Qur'an. Sedangkan untuk orang awam seperti saya yang baru memulai belajar al-Qur'an itu sedikit kebingungan bagaimana cara memulai untuk menemukan mutiara dalam al- Qur'an?

Jawaban: 

Jika untuk memulai.. mulailah membaca al-Qur'an disertai hadirnya akal dan hati dengan izin Allah nanti di bukakan, jangan terlalu fokus mencari mutiara.. fokuslah membaca karena dengan itu artinya kita sedang mendekatkan diri kepada Allah. Jika fokus kepada mutiara dikhawatirkan nanti setelah mendapat mutiara justru timbul pertanyaan apakah akan berhenti karena sudah mendapatkan apa yang dicari?

Salah satu contoh mutiara al-Qur'an: Rahmat dibalik cobaan. Terkadang Allah memberikan cobaan yang dibalikya itu pasti ada Rahmat Allah, seperti kisah Maryam dalam surat Ali-'Imran saking beratnya beliau berharap mati: "Alangkah baiknya aku mati sebelum ini semua terjadi" apa rahmatnya? Di dalam kamdungan beliau adalah seseorang yang akan menjadi Nabi yang di dalam al-Quran disebut "Rahmat bagi semesta alam" yaitu Nabi Isa 'Aliahissalaam. Bahkan di kisahkan, Maryam bukan hanya minta mati tapi minta dilupakan, bersamaan dengan itu kisahnya menjadi kisah abadi yang tidak akan pernah dilupakan dalam sejarah Islam. jika punya akun instagram boleh dibuka @tadabburquran.id, Semoga terjawab.

5. Silmi Kappah/Tasikmalaya/STAI Tasikmalaya

Pertanyaan:

Bagaimana caranya agar hati yang gelisah menjadi tenang ketika membaca al-Qur’an?

Saya pernah mencoba namun hati saya tetap gelisah.

Jawaban: 

Bisa jadi kegelisahan itu adalah godaan setan, berwudhulah meminta perlindungan sebelum membaca, juga perhatikan adab-adab membaca al-Qur'an seperti menghadap kiblat dll. Bisa jadi juga hati dan pikiran kita sedang ada satu masalah untuk itu selesaikanlah dahulu, jika bisa diselesaikan, hal itu agar kita bisa lebih fokus, jika tidak bisa diselesaikan langsung waktu itu.. lupakan sejenak dengan hati tawakkal “Allah Maha Besar”, "perintah-Nya lebih cepat dari kedipan mata" (Qur'an). Lalu fokuslah, masalah menghalangi fokus dari membaca al-Qur'an jika tidak bisa ditunda dan dilupakan sejenak, jangan dipaksakan.. tidurlah (lihat Al-Kahfi yang menjadikan solusi ketika tidak tau mau apa lagi dengan tidur), semoga setelah bangun bisa fresh dan bisa sejenak melupakan masalah lalu bisa fokus membaca Al-Qur'an.


Selasa, 08 September 2020

Q&A Qur'an

 Tanya Jawab seputar al-Qur’an

1. Syarifah

Pertanyaan:

Bagaimana jika kita ingin menghafal al-Qur'an akan tetapi bacaan kita masih kurang benar?

Apakah harus mempelajari bacaannya dahulu sampai benar setelah itu mulai menghafalnya?

Jawaban: 

Iya benar, sebaiknya diperbaiki terbih dahulu, jika sudah tartil (baik dan benar) baru mulai menghafal. Sebab jika masih keliru langsung menghafal khawatir terbawa hafalan yang salah. Namun jika memungkingkan memperbaiki bacaan sambil menghafal dengan bimbingan muhaffiz tidaklah mengapa. Waallahu a’lam


2. Putri Sholehah/Riau/ MAN 2 KAMPAR Pertanyaan:

Bagaimana cara kita untuk memahami al-Qur’an dengan serius? 

Jawaban: 

Mulailah mencari guru al-Quran yang benar dan sungguh-sungguh menguasai al-Qur’an, jika belum menemukan datangi guru yang memiliki ilmu tentang al-Qur’an sekalipun belum pakar dan untuk otodidak bisa sering-sering membaca al-Qur'an terjemahan, lalu seiring berjalan waktu mencoba membaca tafsir terjemah. Namun tetap yaa apa yang dibaca dikonsultasikan ke guru, agar apa yang kita pahami mendapat legalitas dari orang yang lebih paham. Wallahu a’lam



3. Nurul  'Ainun Qalbiy/Parepare, Sulsel 

Pertanyaan:

Bagaimana jika ada orang yang sangat bercita-cita  menjadi  seorang  hafidz/hafidzah.  Namun, setelah banyak menggunakan metode menghafal tetap sulit untuk memperaktekkannya?

Jawaban: 

Semoga Allah mudahkan yaa proses menghafalnya. Aamiin

Ada hal yang perlu ditanamkan dan dipelihara dengan baik bagi orang-orang yang ingin menghafal al-Qur’an yakni memelihara niat dan bersabar. Setiap perjuangan tidak ada yang mudah, setiap perjuangan tentu mendapatkan tantangan. Dan apa yang ditanyakan di atas adalah bagian dari perjuangan dan tantangan. Bismillah ya, teruskan ikhitar, perbanyak do’a, pertebal kesabaran. Insyaa Allah akan mengalir pahala yang banyak disetiap detik kesabaran. Bukankah Allah melihat dari usaha kita? Dan hasil adalah urusan Allah? Sama-sama kita pupuk husnuzon kepada-Nya. Wallahu a’lam


4. Inayatul Masykuroh Pertanyaan:

Didaerah saya itu ada orang tua yang berpikiran kalau anak-anak yang dekat dengan  al-Quran  itu  kuno/katrok/semacamnya.  Anak   orang   tersebut  alhamdulillah suka dengan semacam kegiatan-kegiatan al-Qur'an. Tetapi saya kadang merasa kasihan, karena dia sering diomelin sama orang tuanya. Kira-kira kalau begitu solusi terbaiknya bagaimana ya?

Jawaban: 

Bagi kita hal itu dapat dijadikan renungan bahwa bersyukurlah kita yang tidak mendapat halangan keluarga dalam mendekatkan diri dengan al-Qur’an. Kemudian kepada teman kita hendaknya kita memberi nasehat agar senantiasa semangat dan sabar sebab kecintaan kepada al-Quran Insya Allah akan mendatangkan cinta Allah Swt. Jangan lupa untuk turut mendo'akan sahabat qur’an kita dan orangtuanya. Ingatlah bahwa hati setiap manusia itu ada di dalam gengaman Allah, sangat mudah bagi Allah untuk membolak-balikkannya maka mohonlah kepada Allah agar hati-hati kaum muslimin condong kepada kebaikan.



5. Sattriyani/Sanggau, Kalbar/SMAN 3 Sanggau

. Pertanyaan:

Bagaimana cara agar kita dapat merasakan nikmatnya mukjizat al-Qur’an?

Jawaban: 

Mukjizat itu berarti menundukan atau melemahkan di luar kebiasaan normalnya manusia, adapun mukjizat al-Qur'an itu berarti menundukan pembaca/pendengar dengan keindahan bahasanya, atau kemerduan suaranya, serta cerita-cerita yang bak negeri dongeng. Coba baca deh ayat tentang Nabi Isa, mulai dari kelahirannya, masa bayi, ibu beliau, dilahirkan tanpa ayah, bahkan akhirnyapun bak negeri dongeng.  Itu MasyaAllah sekali.


Senin, 07 September 2020

Mengenal Qiraat dan Sejarahnya

 Qiraat.

Pengertian Qiraat.

Qiraat ditinjau dari bahasa merupakan jama' dari qira'ah yang berarti ragam bacaaan. Sedangkan secara istilah banyak ahli berpendapat sebagai berikut.


Abu Syamah al-Dimasyqi : Qiraat adalah sebuah disiplin ilmu yang mempelajari tata cara melafalkan beberapa kosakata Al-Qur’an dan perbedaan pelafalannya dengan menisbatkan pada orang yang meriwayatkan.


M. Ali As-Shobuni : Qiraat adalah salah satu mazhab dari beberapa mazhab artikulasi (kosakata) Al-Qur’an yang dipilih oleh salah seorang Imam Qiraat yang berbeda dengan mazhab lainnya serta berdasarkan pada sanad yang bersambung pada Rasulullah saw.


M. Zarqani : Qiraat adalah salah satu mazhab yang dipakai oleh salah seorang Imam Qiraat yang berbeda dengan lainnya dalam hal membaca Al-Qur’an.


Dari paparan ahli diatas maka ditarik kesimpulan bahwa sebuah disiplin ilmu yang mempelajari tentang cara melafalkan suatu kosa kata bahasa arab di dalam al-Qur'an yang merujuk kepada imam qiraat yang telah memiliki muttashil al-sanad (bersambungnya sanad) sampai ke Rasulullah saw.


Sejarah Lahirnya Qiraat.

Sama seperti yang kita tahu bahwa semua keilmuan di bidang keislaman telah ada sejak zaman Rasulullah saw. Seperti hadits, tafsir, ulumul qur'an, qiraat, dll. Pada zaman Rasulullah saw. banyak para sahabat mendengar keragaman bacaan yang dibacakan oleh Rasulullah saw. dengan tujuan agar para sahabat yang mendengar bisa menyesuaikan menurut kemampuan mereka. Di masa itulah banyak para sahabat mempelajari ragam qiraat yang ada bersama dengan Rasulullah saw.


Qiraat berkembang pada masa sahabat akan tetapi tidak sampai melahirkan suatu keilmuan di bidang qiraat ini hingga akhirnya pada masa tabi'in ini banyak juga dari golongan tabi'in mempelajari qira'at dengan sanad yang bersambung kepada Rasulullah saw. Dari golongan tabi'in pula lahirnya imam qiraat yang sampai detik ini kita kenal namanya jika membahas tentang qiraat dan pada akhirnya Yahya bin Ya'mar (seorang murid Abu Aswad Ad-Duali) membuat buku yang didalamnya hanya memfokuskan satu qiraat saja, dan Ikhtilafat Mashahif al-Syam wa al-Hijaz wa al-‘Iraq karya ‘Abdullah bin ‘Amir (w. 118 H).


Daftar Pustaka.

Ad-Dimasyqī Abū Syāmah, Ibrāz al-Ma‘āniy min ¦irz al-Amāniy fī al-Qirā’āt as-Sab‘. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1980.


Daftar Pustaka.

Al-Qaththān, Mannā‘, Mabāhits fī ‘Ulūm al-Qur’ān. Beirut: Dār al-Fikr.


A¡-Sābūnī, Muhammad ‘Alī, At-Tibyān fi Ulūm al-Qur’ān. Beirut: Dār al-Irsyād.


Az-Zarqānī, Muhammad ‘Abd al-‘Azīm. Manāhil al-‘Irfān fī ‘Ulūm al-Qur’an, Jilid I. Kairo: al-Halabī.


Isma’il, Nabil bin Muhammad Ibrahim Ali,‘Ilm al-Qira’at: Nasy’atuhu Atwaruhu Asaruhu fi ‘Ilm al-Syari’at, Riyad: Maktabah al-Taubah, 1419 H

Selasa, 01 September 2020

Mengenal Nagham Al-Qur'an

 Sering sekali kita melihat para Qari dan Qariah melantunkan ayat suci al-Qur'an dengan indah dan merdu baik di video atau perlombaan MTQ. Keindahan dan kemerduannya membuat kita merasa tenang dan takjub bahkan ada yang ingin mempelajarinya setelah mendengarkan lantunan ayat yang dilantunkan Qari dan Qariah. Lantunan yang dibacakan oleh para Qari dan Qariah itu bukan sembarangan melagukan al-Qur'an saja, tetapi lantunan itu berdasarkan irama yang disebut nagham al-Qur'an. Nagham al-Qur'an juga merupakan salah satu seni dalam membaca al-Qur'an.


Secara etimologi Nagham berasal dari bahasa arab yakni dari kata naghama-yanghamu yang berarti bernyanyi, bersenandung, dan melagukan.  Istilah lain jika dirangkai dengan kata al-Qur’an maka memiliki arti membaguskan dan memperindah suara kita pada saat membaca al-Qur’an yang dengannya kita bisa menikmati makna yang terkandung di dalam al-Qur’an itu sendiri. Ahli pakar suara yang biasa disebut dzawil ashwat mengemukakan bahwa kata nagham adalah melagukan ayat suci al-Qur’an tanpa diiringi musik dan not balok sehingga kata ngaham i i dikhususkan untuk tazyin al-shaut bi tilawah (memperindah duara ketika membacanya). 


Kalau diperhatikan kembali, masyarakat Arab sebelum Islam hadir ditengah bangsa Arab, mereka telah mengenal seni musik dan sastra. Ketika Islam hadir, mereka yang memeluk agama Islam melantunkan al-Qur'an dengan irama yang indah  hingga itu menjadi cikal bakal irama atau nagham al-Qur’an. 


Sebagimana pada zamannya, Rasulullah SAW adalah seorang qari yang membaca al-Qur'an dengan suara indah dan merdu. Abdullah bin Mughaffal pernah mengilustrasikan suara Rasulullah dengan terperanjatnya unta yang ditunggangi Nabi ketika Nabi melantunkan surah Al-Fath Para sahabat juga memiliki minat yang besar terhadap ilmu nagham ini. Sejarah mencatat sejumlah sahabat yang berpredikat sebagai qari, diantaranya adalah: Abdullah Ibnu Mas'ud dan Abu Musa Al Asy'ari. Pada periode tabi'in, tercatat Umar bin Abdul Aziz dan Safir Al Lusi sebagai qari kenamaan. Sedangkan periode tabi' tabi'in dikenal nama Abdullah bin Ali bin Abdillah Al Baghdadi dan Khalid bin Usman bin Abdurrahman. 


 "Sungguh ia (Abu Musa) telah diberi keindahan suara sebagaimana keindahan suara keturunan Nabi Daud." (HR Bukhari 5048, Muslim 793).


Hadits diatas tentang Nabi pernah memuji seorang sahabat bernama Abu Musa karena indahnya bacaan al-Qur’an yang dilantunkan olehnya. Ini membuktikan juga bahwa Abu Musa menggunakan irama ketika membaca al-Qur’an. Ada pula riwayat bahwa Nabi Muhammad sering menggunakan irama ‘ajam atau jiharkah ketika shalat shubuh.


Nagham al-Qur'an mengalami perkembangan paling pesat di kawasan Teluk Persia, kemudian berkembang di Mesir. Lalu dengan keuletan dan keahliannya, para qari' Mesir memodernisasikan lagu-lagu tersebut yang kemudian banyak dijadikan pedoman oleh qurra' dunia. 


Berikut beberapa jenis nagham:

• Bayyati

• Hijaz

• Nahawand

• Rast

• Jiharkah

• Shoba

• Sikkah 


Jika ditanya mengenai bagaimana hubungan nagham al-Qur’an dan tajwid  maka jawabannya adalah keduanya saling melengkapi karena membaca al-Qur’an dengan nagham pun harus menggunakan tajwid juga. Tidaklah benar bacaan seseorang jika membaca al-Qur’an tanpa menggunakan tajwid dan tidaklah indah lantunan ayat al-Qur’an bila tak menggunakan nagham.


Daftar Pustaka

1. Anwar, Shabri Shaleh dan Jamaluddin. 2020. Pendidikan Al-Qur’an: K.H. Bustani Ahmad. Indragiri Hilir: Indragiri Dot Com.

2. Ahmad Warson Munawwir. 1997. Kamus Al-Munawwir; Arab-Indonesia Terlengkap. Surabaya: Pustaka Progressif.

3.  Muhaimin Zen dan Ahmad Mustafid. 2006. Bunga Rampai Mutiara Al-Qur’an – Pembinaan Qari’-Qri’ah dan Hafidz-Hafidzah. Jakarta: Jam’iyyatul Qura’ wal Huffaz.

4. Tolchah, Moch. 2016. Aneka Pengkajian Studi Al-Qur’an. Yogyakarta: LKiS Pelangi Aksara.

5. Moersjied Qorie Indra. 2019. Seputar Nagham (Seni Baca al-Qur'an). Jakarta: Qaf

Sabtu, 22 Agustus 2020

Kunci Membuka Mutiara Al-Qur’an

Hamdan Wa Syukran LilLaah 

Asyhadua alla Ilaaha Ila-Laah, wa Asyhadu anna Muhammad Rasūlullah


 نٓۚ وَٱلۡقَلَمِ وَمَا يَسۡطُرُونَ ١ 

“Nuuuun, demi pena dan tulisan” (QS. al-Qalam/68:1)

من قرأ القرآن متع بعقله وإن بلغ من العمر مائتى سنة (محمد بن كعب)

“Siapa yang membaca al-Qur'an akalnya senantiasa segar meski mencapai umur seratus tahun” (Muhammad bin Ka'ah. Al-Bidāyah wan-Nihāyah 9/280)


Apa kabar pecinta al-Qur'an? 

Semoga senantiasa dekat dengan Kitab-Nya. Aamiin

KUNCI MEMBUKA MUTIARA AL-QUR'AN

Ketika disebut "Mutiara" apa yang terbayang oleh teman-teman? 

Perlu disampaikan, mutiara dari segi lafaz/kata di-mention pada beberapa tempat dalam al-Qur'an, ketika menggambarkan bidadari surga misalnya, menggunakan susunan kata yang sangat indah.

 وَحُورٌ عِينٞ ٢٢ كَأَمۡثَٰلِ ٱللُّؤۡلُوِٕ ٱلۡمَكۡنُونِ ٢٣ 

“Mereka bidadari bermata indah. Seolah mutiara yang terjaga” (QS. Al-Wāqi'ah/56:22-23). 

Lihat!

Hanya 6 lafaz/kata tapi sangat luas penggambarannya. Dalam Tafsir At-Thabari dijelaskan bahwa bidadari itu "Bermata sangat putih dan hitamnya sangat hitam", terjaganya seakan mutiara dalam kerang disasar lautan. Begitu terjanganya, lafaz "maknūn" itu tidak ada manusia/jin yang menyentuhnya.





Atau ketika menggambarkan pelayan surga

۞وَيَطُوفُ عَلَيۡهِمۡ وِلۡدَٰنٞ مُّخَلَّدُونَ إِذَا رَأَيۡتَهُمۡ حَسِبۡتَهُمۡ لُؤۡلُؤٗا مَّنثُورٗا ١٩ 

“Mereka penghuni surga dikelilingi pemuda yang kekal. Apabila engkau lihat mereka(pemuda) seakan mutiara yang berjejer rapih” (QS. Al-Insan/76:19) 

Demikian itu jika kita mencari mutiara bermakna lafaz dalam al-Qur'an. Mereka bukan mutiara tapi pemuda yang Allah gambarkan dengan ungkapan lafaz yang indah, seandainya kalian lihat nanti di surga, bidadari dan pelayan seolah mutiara yg terjaga, tersusun dan rapi.

Adapun dalam pemilihan diksi pada tema kita kali ini adalah kata mutiara yang biasa dipakai untuk sesuatu yang berharga, mahal, langka, indah, berkilau, dst.

Mutiara.. 

Tentu setiap orang berbeda-beda membayangkan mutiara tersebut, bahkan konteks mutiara itu sangat luas. Kita bisa bayangkan, seseorang yang mencari mutiara di dalam lautan. Tentu di dalam lautan tidak ada yang tidak berharga, semuanya berharga. 

Kembali pada mutiara, apa yang sedang kalian cari? Terumbu karang kah? Indahnya senja di pantai kah? Suara gemuruh ombak? mutiara dalam kerang? Atau tempat yang belum terjamah manusia di tempat paling dasar lautan sana? 

Subhānaka Ma Khalaqta Hadza Bāthila . (Maha suci Engkau, tidaklah semua diciptakan untuk kesia-siaan).

Begitupun mutiara al-Qur'an, ada yang mencari solusi, kebahagiaan, hukum, ketenangan, hidayah, kepemimpinan, obat, bahkan Tuhan? Ada pula yang mencari keduniawian yakni mencari harta, tahta, kedudukan, ataupun wanita. 

Apa yang kau cari sahabat? Samudra al-Qur'an itu luas, semuanya ada.

Sebelum masuk lebih jauh, mari bacalah dengan seksama, pelan-pelan, serta menghadirkan hati. Berikut sebuah kisah cerita fakta yang dikutip dari kitab Qālū 'Anil Islām 287:

Seseorang wanita Inggris, ia non muslim, ia membaca al-Qur'an, dan bercerita.

"Ketika aku baca halaman perhalaman, mulailah aku mencoba menyimpulkan setiap bekas baik yang ditinggalkan al-Qur'an dalam hatiku, seketika aku terbungkam tidak mampu untuk menyimpulkannya. Belumlah selesai dari bacaanku pada surat ketiga dalam Al-Qur'an, aku mendapati diriku telah sujud pada Tuhan pencipta semesta ini, itulah shalat pertamaku dalam Islam." (Aisyah Hwen)

Allahu Akbar.. SubhānaKa Rabbi-al-A'lā (Allah Maha Besar. Maha Suci Engkau) 

Duhai Rabbku Yang Maha Tinggi, tidakkah kita terbayang bagaimana perasaan beliau? 

Setelah sekian lama dalam gelap mencari-cari cahaya, lalu menemukan cahaya. Itu bukanlah hal yang sederhana, sehingga belumlah sampai selesai dari surat ketiga beliau mendapati dirinya telah sujud pada Rabb pengurus semesta alam. 

Renungkanlah Sahabat..

Dalam kisah fakta ini kita telah bisa mengidentifikasi apa yang dari awal beliau cari dalam al-Qur'an? Ya, beliau mencari Rabb pengurus semesta alam, dan dalam al-Qur'an-lah beliau mengenal-Nya, sehingga masuk Islam dan terus melaksanakan shalat. 

Mutiara apa yang dicari dalam al-Qur'an? Apapun itu, peganglah kunci untuk membuka mutiara al-Qur'an.

Lalu apa saja sih kuncinya? 

Mari kita ketahui dan jaga. Satu kunci yang akan selalu menjadi pegangan, satu kunci yang dengannya pintu-pintu lainnya akan terbuka, dengan itu mutiara-mutiara lainnya akan terbuka, insyaAllah. Yaitu "PEMAHAMAN" kalau bahasa agamanya "TADABBUR"

Berkata Hasan Al-Bashri: "Ilmu itu dua; Ilmu dalam hati itulah ilmu yang bermanfaat, dan ilmu dalam lisan itulah yang akan menjadi hujjah Allah pada makhluk-Nya." (Fannun At-Tadabbur 19)

"Kak. Al-Qur'an kan pakai bahasa Arab, aku gak paham"

Sahabat, kembali pada cerita tadi, beliau non-muslim namun, sekali saja baca sudah banyak berbekas kebaikan di hatinya. Hal itu karena ia mampu menghadirkan poin satu lalu memicu hadirnya poin kedua walaupun terjemahan. Kita yang muslim sejak lahir telah berapa kali kita membaca al-Qur'an namun kian luput dari mendapatkan kebaikan-kebaikan/mutiara di dalamnya? Karenanya, marilah sama-sama kita memulai setelah mengetahui kuncinya, selain baca al-Qur'an  versi Arabnya, juga sedikit-sedikit ditambah terjemahannya ya, dengan menghadirkan akal dan hati. 

"Itu saja kak?"

Tentu tidak, masih ada lagi, lanjut yuuk..

Dibawah ini Allah Ta'ala mensifati al-Qur'an dalam kitab-Nya, setidaknya para ulama mengurai menjadi 25 sifat. Berikuta hanya nama surat dan ayatnya saja ya, nanti temen-temen kutip sendiri ayatnya.


1. Al-Haq (Kebenaran) lihat QS. Fāthir/35:31

2. Al-Hudā (Petunjuk - untuk yang haq) lihat QS. Al-A'rāf/7:52

3. Al'-'Ilm (Ilmu) lihat QS. Al-Baqarah/2:120

4. Al-Burhān (Petunjuk - disertai bimbingan) lihat QS. An-Nisā/4:174

5. Al-Muhaimīn (Terjaga/terpelihara) lihat QS. Al-Ma'idah/5:48

6. Al-Barakah (Keberkahan) lihat QS. Shad/38: 29

7. Al-Mauidzah (Pelajaran) lihat QS. Yūnus/10: 57

8. Asy-Syifā (Obat) lihat QS. Al-Isrā/17:82

9. At-Tadzkirah (Peringatan) lihat QS. Al-Muddatsir/74:49

10. Ar-Rahmah (Kasih sayang) lihat QS. An-Nahl/16:89

11. An-Nūr (Cahaya) lihat QS. An-Nisā /4:174

12. Ash-Shiddiq (Kebenaran) lihat QS. Az-Zumar/39:33

13. Al-Mushaddiq (Membenarkan - kitab sebelemunya) lihat QS. Fāthir/35:31)

14. Al-'Aly (Tinggi) lihat QS. Az-Zukhrūf/43:4

15. Al-Karīm (Mulia - dipakai untuk kebaikan) lihat QS. Al-Wāqi'ah/56:77

16. Al-'Azīz (Mulia - dipakai untuk sifat kekuatan) lihat QS. Fushilat/41:41 

17. Al-Majīd (Mulia - mirip dengan poin 15 hanya yang ini memberikan kebaikan untuk yang lain) lihat QS. Al-Burūj/85:21

18. Al-Furqān (Petunjuk - dipakai untuk sebagai pembeda antara yang haq dan bathil) lihat QS. Al-Furqān/25:1

19. Bashāir (Penglihatan - bentuk jamak) lihat QS. Al-Jātsiyah/45:20

"Kak kenapa ada 19?"

Selebihnya, Muhkam (hukum), Mufashhil (pengulangan), 'Ajaba (Ajaib), Balāg (Sampai terus menerus), Bayān, Tibyān. (Penjelas) perlu penjelasan khusus.

Sahabat..

Dengan semua ini belumlah cukup kita merasa fakir terhadapnya? Jangan sampai menjadi seperti orang yang al-Qur'an tanyakan. 

 فَبِأَيِّ حَدِيثِۢ بَعۡدَهُۥ يُؤۡمِنُونَ ٥٠ 

“Lantas mau dengan ucapan yang seperti apalagi mereka akan beriman?” (QS. Al-Mursalat/77:50)


Berikut tiga hal yang harus diyakini dari al-Qur'an, yakinlah bahwa:

1. Al-Qur'an adalah Ruh, tanpanya manusia tinggal jasadnya saja. Lihat (QS. Asy-Syūra/26:52)

2. Al-Qur'an adalah cahaya, tanpanya manusia buta. Lihat (QS. Ar-Ra'd/13:19) 

3. Al-Qur'an adalah petunjuk, tanpanya manusia tersesat. Lihat (QS. Yūnus/10:108)

Sahabat, renungkankah!

Al-Qur'an diturunkan pertama kali dari Allah lewat perantara malaikat Jibril, pertama kali diturunkannya adalah untuk hati, yakni kepada hati beliau Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasallam

 وَإِنَّهُۥ لَتَنزِيلُ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٩٢ نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلۡأَمِينُ ١٩٣ عَلَىٰ قَلۡبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُنذِرِينَ ١٩٤ 

“Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril). Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan” (Qs Asy-Syu'arā 192-194)


Allah tidak memilih lafaz pada pendengaranmu atau akalmu atau padamu. Tapi, pada hatimu. Hati, hati dan hati.

Bagaimana kabar hatimu sahabat? Ketika beliau dalam sabdanya: 


"Sesungguhnya dalam diri manusia ada segumpal daging, apabila baik maka baiklah jasadnya seluruhnya" (Muttafaqun 'Alaih)


Bagaimana kabar hatimu sahabat? ketika beliau semalaman mengulang-ulang ayat


إِن تُعَذِّبۡهُمۡ فَإِنَّهُمۡ عِبَادُكَۖ …. ١١٨ 

“Jika Engkau mengadzab mereka, mereka hamba-Mu,…” (QS. Al-Maidah/5 :118)

Sambil menangis, beliau teringat akan kita umatnya. Llau pernahkah kita menangis untuk beliau? Sekali saja? Karena mengingat-ngingat perjuangan beliau yang berdarah-darah? Demi ummatnya agar bisa membaca al-Qur'an, agar ummatnya mengambil banyak mutiara dalam al-Qur'an. 

"Hati itu itu ibarat cermin jika dipenuhi dengan kebenaran maka akan terpancar cahaya dari anggota tubuh, sebaliknya jika dipenuhi dengan kebathilan maka akan terpancar kegelapan" (Rawa'iul Kalām Arab)

Coba perhatikan..

Apa jadinya jika kita berpaling dari Al-Qur'an?

فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ ٤٩  كَأَنَّهُمۡ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ ٥٠  فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۢ ٥١ 

“Apa mereka berpaling dari peringatan (Al-Qur'an)? Seakan mereka keledai yang terbirit-birit. Lari dari singa” (QS. Al-Muddatsir/74:49-51)

Jika kita urai, 

Humur = jamak dari himar yang berarti keledai

Mustanfirah = lari terbirit-birit karena sadar lemah dan dengan penuh ketakutan

Qashwarah = singa atau pemburu

Bukan hanya disamakan dengan makhluk-Nya yaitu keledai tapi ada penambahan sifat, "Keledai yang marah, lari terbirit-birit karena takut" disamping Rabbnya. Hal ini bukan berarti dijadikan dalil pembenaran kita bisa memanggil orang yang berpaling dari al-Qur'an dengan keledai. Hati-hati, al-Qur'an bilang "seakan seperti" artinya bukan “keledai” tapi mereka tetap “manusia" 

لا تقنطو من رحمة الله

“Jangan berputus asa dari Rahmat Allah (Qur'an)"

Caranya, kak?"

Dalam al-Qur'an terdapat banyak rahasia-rahasia, tidaklah akan terbuka satupun dari sekian banyaknya, kecuali setelah bersahabat dalam waktu yang lama dengan al-Qur'an. Karena dengan membaca al-Qur'an seakan Dia Yang Maha Rahmān berkata pada kita, pada saat itulah selain akan disingkap rahasia-rahasia, akan ada pula keberkahan, ketenangan, keamanan, dan Cinta-Nya. 


Setiap lafaz-lafaz jika hilang mungkin ada pengganti. Tapi bagaiamana dengan lafaz al-Qur'an? Jelas tidak ada penggantinya.

Mendekatkah pada Kalam-Nya selama mungkin, dengan

1. Niat ikhlas untuk Allah

2. Selalu meminta perlindungan pada Allah dari syaitan

3. Menghamba pada Allah agar dibantu-Nya untuk paham

4. Berusaha memikirkan ayat dengan serius

5. Banyak mengulang-ulang ayat 

Berikut sebuah syair yang indah


وان كتاب الله اوثق شافع - واغنى غناء واهبا متفضلا - وخير جليس لا يمل حديثه   - وترداده يزداده فيه تجملا

“Kitab Allah diuntai sebagai syafaat. Senandung paling kaya yang memberikan kemuliaan. Sebaik-baiknya teman duduk yang tidak ada kebosanan saat bercengkrama dengannya. Ketika semakin banyak diulang semakin menambah keindahan di dalamnya”. (Asy-Syāthibi - dalam Alfiahnya).

Alhamdulillah.. 

subhānaka allahumma wabihamdika asyhadu alla ilāha illa anta, astagfiruka wa atūbu 'alaikaltu 

Demikian yang bisa saya sampaikan, terima kasih teman-teman yang telah mengikuti sampai akhir, mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada salah atau kurang dalam penjelasan, selamat malam, sampai ketemu di lain kesempatan..do'akan saya yah ;)

salam generasi #AhlulQuran 

salam generasi #Rabbani




Jumat, 21 Agustus 2020

Muharram (Pengenalan, Peristiwa yang Terjadi, dan Keutamaan)

 Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam kalender hijriah yang dibuat pertama kali oleh Khalifah Umar Ibn Khattab. Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang mulia dari empat bulan mulia lainnya dalam 12 bulan hijriah. Hal ini dapat kita ketahui dalam Q.S. Al-Taubah : 36.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”

Peristiwa yang terjadi pada Bulan Muharram, antara lain:

1. Hijrahnya Nabi Muhammad SAW.

2. Peristiwa banjir di zaman Nabi Nuh.

3. Nabi Musa dan kaumnya diselamatkan dari Fir’aun dan bala tentaranya.

4. Ka’bah yang menjadi kiblat manusia.

5. Bagi sebagian besar kalangan muslim tradisional, bulan Muharram atau Sura adalah “syahr al-anbiya” (bulan pemilik para nabi) karena berdasarkan kitab-kitab keagamaan, pada bulan itulah peristiwa-peristiwa kenabian dalam lingkup besar terjadi.

6. Peristiwa gugurnya Sayyidina Husein, cucu Rasulullah di Padang Karbala.

Keutamaan Bulan Muraharram dan Puasa ‘Asyura.

1. Muharram salah satu bulan yang mulia berdasarkan firman Allah Q.S. Al-Taubah : 36.

2. Berdasarkan tafsir al-Munir karya Prof. Dr. Wahbah al-Zuhaili menafsirkan pada Q.S. Al-Taubah : 36 bahwa pahala yang berlipat ganda bagi yang melaksanakan amal shaleh, dan dosa yang besar bagi yang mengerjakan keburukan. Dalam Tafsir Jalalayn juga menafsirkan pada Q.S. al-Taubah : 36 bahwa adanya larangan menzhalimi diri sendiri dengan melakukan maksiat karena dosanya lebih besar pada 4 bulan yang dimuliakan.

3. Disunnahkan puasa ‘asyura berdasarkan hafits Nabi saw. “Dahulu Rasulullah memerintahkan untuk berpuasa Asyura, tatkala puasa Ramadhan diwajibkan, maka bagi siapa yang ingin berpuasa puasalah, dan siapa yang tidak ingin, tidak usah berpuasa” (HR. al-Bukhari No. 2001).

4. Puasa ‘asyura menghapus dosa tahun lalu berdasarkan hadits Nabi saw. “Rasulullah ditanya tentang puasa Asyura, jawab beliau , ”Puasa Asyura menghapus dosa setahun yang lalu” (Muslim No. 1162, Tirmidzi No. 752).

5.     Puasa 'asyura adalah puasa yang paling utama setelah puasa ramadhan berdasarkan hadits Nabi “Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah Bulan Allah Muharram, dan sebaik-baik shalat setelah fardhu adalah shalat malam”. (HR. Muslim, bab Keutamaan Puasa Muharram).

Daftar Pustaka

Al-Qur’an al-Karim dan Terjemahannya Kementrian Agama.

Al-Zuhaili, Wahbah. Tafsir al-Munir, al-Maktabah al-Syamilah.

Patin Nurdiani, 2013,“Bulan Sura dalam Perspektif Islam” dalam http://www.iainpurwokerto.ac.id diakses tanggal 21 agustus 2020.

Suyuthi, Jalaluddin. Mahalli, Jalaluddin. "Tafsir Jalalayn", al-Maktabah al-Syamilah.

Syarbini, Amirulloh. Afgandi, Iis Nu'aeni. "Dahsyatnya Puasa Sunah: Kunci Utama Meraih Sukses Dunia dan Akhirat", Bandung: Ruang Kata Imprint Kawan Pustaka.


Sabtu, 06 Juni 2020

Memaknai Inzal dan Tanzil dalam berinteraksi dengan Al-Qur'an

Istilah Inzal adalah istilah yang digunakan untuk menginformasikan bahwa Al-Qur'an diturunkan sekaligus pada malam Lailatul Qadar dari langit ketujuh (Lauh Mahfuz) menuju langit dunia (Baitul Izzah). Di jelaskan bahwa malam tersebut menjadi malam paling mulia. Dimana kala kita beribadah di malam itu menjadi ibadah yang bernilai 1000 bulan atau 83 tahun. Setiap Ramadhan kaum muslimin berlomba-lomba untuk mendapatkan malam itu.
Masih dalam proses turunnya Al-Qur'an, namun masuk fase dari langit dunia (Baitul Izzah) kepada Rasulullah Saw. Diperantarai oleh malaikat Jibril yang kemudian menjadi pimpinan para malaikat. Di dalam hati Rasulullah telah terinstalasi al-Qur'an maka Rasulullah menjadi Rasul yang amat mulia. Fase ini disebut dengan istilah Tanzil.

Jika kita cukupkan sampai sini, bisa kita lihat bahwa semua yang lekat interaksinya dengan Al-Qur'an menjadi sangat mulia. Sebab cipratan kemuliaan itu mengenai siapa saja dan apa saja yang dilaluinya.

Di Ramadhan kita berupaya untuk mengkhatamkan Al-Qur'an sebanyak-banyaknya, kita pun membaca Al-Qur'an sebanyak-banyaknya. Namun sadarkah kita, bahwa aktivitas tersebut mengakibatkan kita tidak begitu mendapatkan rasa tadabbur. Kecepatan bacaan kita yang mengejar target selesai membuat kita kehilangan rasa nikmat dari setiap ayat dan mendapatkan nikmat justru setelah membacanya.  Hal ini sesuai dengan proses Inzal, dimana hari-hari diisi dengan tujuan mengkhatamkan keseluruhan.
Pasca Ramadhan kita tidak dituntut untuk banyak mengkhatamkan tetapi di tuntut untuk tadabbur. Sebagaimana Tanzil nya Al-Qur'an selama 23 tahun. Proses panjang tersebut adalah proses tadabbur. Al-Qur'an diturunkan secara bertahap adalah agar lebih mudah di tadabburi, agar setiap tadabbur ayat lebih mudah terinstalasi di dalam diri. Tentu tidak selesai tadabbur dalam 11 bulan. Sebagaimana para sahabat pun berproses selama 23 tahun. Sadarkah kita bahwa proses ini justru meminta kita agar merasakan nikmatnya waktu membaca bukan pasca membaca.
Inzal dan Tanzil memberikan kita pemaknaan mendalam terkait interaksi dengan Al-Qur'an. Bagaimana cara kita tetap bisa merasakan Ramadhan sepanjang tahun. Sebab apa yang telah diturunkan di bulan itu ada bersama kita, dekat dengan kita. Tidak lain adalah agar kita selalu menjadikan hari-hari bersamanya. Menjadikan bulan al-Qur'an sepanjang tahun sebagai bentuk mengamalkan makna Tanzil setelah Inzal. Jadikanlah Ramadhan Inzal dan Tanzil di 11 bulan lainnya. Jika Rasulullah saja butuh 23 tahun untuk Tanzil maka berikan sisa umur kita untuk meneladaninya.

Dan lagi-lagi mari kita lihat, generasi awal itulah yang menjadi generasi terbaik sebab dilalui oleh al-Qur'an pertama kali. Menjadi generasi pertama yang Tanzil dengan Al-Qur'an. Ikutilah mereka agar kemuliaan mereka terinstalasi kepada kita melalui tadabbur.

Kamis, 04 Juni 2020

Mengenal Ulama Al-Qur'an (3)

Imam Nafi' al Madani

Nama lengkap beliau adalah Nafi' bin Abdurrahman bin Abi Nu'aim Al Laitsi Al Kanani. Berasal dari Asbahan yang terkenal dengan kulit hitam legamnya namun wajah beliau amat berseri dan amat baik bacaan Al-Qur'annya. Lahir pada tahun 70n H dan wafat pada 169 H. Seorang pakar qiraat ini telah belajar pada 70 tabi'in. Ia menghabiskan hidupnya dengan mengajar Al-Qur'an terutama mengenai qiraat. Diriwayatkan dari murid-muridnya bahwa ia mengajar selama 70 tahun di Madinah. Terkenal pula bahwa setiap kali ia berbicara tercium aroma harum dari mulutnya padahal ia sama sekali tidak menggunakan parfum. Imam Mujahid memasukkan Imam Nafi' pada barisan ulama qiraat dan menempatkannya pada urutan pertama. Alasan Imam Mujahid adalah sebab beliau tinggal di Madinah dan itulah cara memuliakan Rasulullah . Sedangkan alasan memilihnya masuk dalam barisan imam qiraat adalah sebab 4 hal, yaitu:
1. Beliau memiliki sanad qiraat yang sangat jelas. Beliau ada pada tingkatan ke 4 yakni, Rasulullah, Ubay bin Ka'ab, Abu Hurairah dan Imam Nafi'.
2. Bersifat tsiqqah/terpercaya. Kita tahu bahwa sifat ini amat penting dalam keilmuan Islam. Beliau 'alim dan mengajar sangat lama sehingga beliau amat terpercaya.
3. Beliau memiliki metodologi sendiri dalam mengajarkan qiraatnya. Beliau biasa mengajar Ba'da subuh kepada murid-muridnya dan beliau memilih untuk mengajarkan sesuai dengan urutan kedatangannya. Adapun cara mengajarkan nya adalah talaqqi/talqin sebanyak 30 ayat setiap hari. Beliau belajar dari 70 tabi'in dan amat selektif dalam memilih bacaan, bukan karena bacaan tabi'in salah namun beliau memilih mayoritas bacaan gurunya yang kemudian ia ajarkan kepada murid-muridnya.
4. Ilmu beliau sangat dalam di samping itu beliau juga ahli bahasa dan sejarah bahasa Arab.

Demikian qiraatnya yang hingga kini masih mewarnai dunia keislaman. Kita dapati bacaan Qur'an beliau dari dua orang rawinya yaitu Imam Qalun dan Warsy.

Selasa, 02 Juni 2020

Qashasul Qur'an


Pengertian Qashash

Al-Qur'an telah menyebutkan kata qashash dalam beberapa konteks, pemakaian dan tashrif dalam bentuk fi'il madhi (kata kerja lampau), fi'il mudhari' (kata kerja sedang/akan) dan fi'il amr (kata kerja perintah), dan dalam bentuk mashdar (kata benda).
Secara bahasa kata al-qashshu berarti mengikuti jejak atau mengungkapkan masa yang lalu. Sedangkan al-qashash adalah bentuk mashdar dari qashsha-yaqushshu-qashashan, sebagaimana yang diungkapkan dalam al-Qur'an:
….فَٱرۡتَدَّا عَلَىٰٓ ءَاثَارِهِمَا قَصَصٗا ٦٤
"...Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula" (al-Kahfi [18]: 64)

Al-Qashash dalam al-Qur'an sudah pasti tidak fiktif, sebagaimana yang ditegaskan dalam al-Qur'an:
إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡقَصَصُ ٱلۡحَقُّۚ ….٦٢
"Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar..." (Ali Imran [3]: 62)

لَقَدۡ كَانَ فِي قَصَصِهِمۡ عِبۡرَةٞ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِۗ… ١١١
"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu benar-benar terdapat pengajaran bagi orang-orang yang berakal...." (Yusuf [12]: 111)

Allah Ta'ala juga memberi karakter terhadap kisah al-Qur'an sebagai suatu kisah terbaik sebagaimana yang disebutkan dalam QS. Yusuf [12]: 2-4
 إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ قُرۡءَٰنًا عَرَبِيّٗا لَّعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ ٢ نَحۡنُ نَقُصُّ عَلَيۡكَ أَحۡسَنَ ٱلۡقَصَصِ بِمَآ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ وَإِن كُنتَ مِن قَبۡلِهِۦ لَمِنَ ٱلۡغَٰفِلِينَ ٣ إِذۡ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَٰٓأَبَتِ إِنِّي رَأَيۡتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوۡكَبٗا وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ رَأَيۡتُهُمۡ لِي سَٰجِدِينَ ٤

"Sesungguhnya kami menurunkannya berupa Al-Qur'an dengan berbahasa Arab agar kamu memahaminya. Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur'an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang yang belum mengetahui. (Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku."

                        Secara terminologi, qashash berarti berita-berita mengenai suatu permasalahan dalam masa-masa yang saling berurutan. Al-Qur'an selalu menggunakan terminologi qashash untuk menunjukkan bahwa kisah yang disampaikan itu benar dan tidak mengandung kemungkinan salah atau dusta. Sementara kisah-kisah lain yang mengandung kemungkinan salah dan benar biasanya bentuk jamaknya diungkapkan dengan istilah qishash.
                        Imam ar-Raghib al-Isfahani mengatakan dalam kitab mufradatnya (al-Mufradat fii Gharib Al-Qur'an) tentang kata ini (qashash), "Al-Qashshu berarti 'mengikuti jejak'. Dikatakan, “Qashashtu atsarahu'' Saya mengikuti jejaknya'. Al-qashash ialah berarti jejak (atsar)[1].
                        Manna Khalil al-Qattan mengungkapkan bahwa qashash al-Qur'an adalah pemberitaan mengenai hal ihwal umat yang telah lalu, nubuat (kenabian) yang terdahulu, kejadian-kejadian bencana, sejarah umat, dan disebutkan kota-kota maupun perkampungan, dan mengikuti jejak setiap kaum serta peristiwa-peristiwa yang telah, sedang, dan akan terjadi.[2]

Macam-Macam Qashash

Adapun macam-macam kisah dalam al-Qur'an terbagi tiga, yaitu[3]:
1.      Kisah Para Nabi Terdahulu
       Kisah ini mencakup dakwah mereka pada  kaumnya, mukjizat mereka, sikap penentang para Nabi, fase dakwah dan perkembangannya, balasan terhadap orang-orang kafir dan para pendusta, seperti kisah Nabi Nuh, Ibrahim, Yusuf, Musa, Harun, Isa, Muhammad shallallahu 'Alaihi wa sallam, dan lainnya.
Contohnya: Kisah Nabi Ibrahim 'alaihissalaam dalam QS. al-Anbiya' [21]: 52-57
إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ٱلَّتِيٓ أَنتُمۡ لَهَا عَٰكِفُونَ ٥٢  قَالُواْ وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا لَهَا عَٰبِدِينَ ٥٣ قَالَ لَقَدۡ كُنتُمۡ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُمۡ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ٥٤ قَالُوٓاْ أَجِئۡتَنَا بِٱلۡحَقِّ أَمۡ أَنتَ مِنَ ٱللَّٰعِبِينَ ٥٥ قَالَ بَل رَّبُّكُمۡ رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ ٥٦ وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ ٥٧
"(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata ayahnya dan kaumnya: 'Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?' Mereka menjawab: 'Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya'. Ibrahim berkata: 'Sesungguhnya kamu dan nenek moyangmu berada dalam kesesatan yang nyata'. Mereka menjawab: 'Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?'. Ibrahim berkata: 'Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu. Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya.”

2.      Kisah Al-Qur'an yang Berkaitan dengan Kejadian Masa Lalu
Seperti kisah orang-orang yang ke luar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena takut mati, Thalut dan Jalut, dua putra Nabi Adam, Ahlul Kahfi, Dzul Qarnain, Qarun, Ashab as-Sabti, Maryam, Ashabul Uhdud, Ashabul Fiil, dan lainnya.
Contoh: Kisah Qarun yang diabadikan dalam QS. Al-Qashash [28]: 76
۞إِنَّ قَٰرُونَ كَانَ مِن قَوۡمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيۡهِمۡۖ وَءَاتَيۡنَٰهُ مِنَ ٱلۡكُنُوزِ مَآ إِنَّ مَفَاتِحَهُۥ لَتَنُوٓأُ بِٱلۡعُصۡبَةِ أُوْلِي ٱلۡقُوَّةِ إِذۡ قَالَ لَهُۥ قَوۡمُهُۥ لَا تَفۡرَحۡۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡفَرِحِينَ ٧٦
                "Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah), ketika kaumnya berkata kepaanya: 'Janganlah kamu terlalu bangga; Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri'."      

3.       Kisah yang Berkaitan dengan Kejadian yang Terjadi pada Masa Rasulullah
Seperti Perang Badar, Uhud dalam surah Ali Imran, Perang Hunain, Tabuk dalam surah at-Taubah, Perang Ahzab dalam surah al-Ahzab, Hijrah, al-Isra' dan yang semisal dengannya.
Contoh: Kisah tentang Perang Badar yang terekam dalam QS. Ali Imran [3]: 123-125
وَلَقَدۡ نَصَرَكُمُ ٱللَّهُ بِبَدۡرٖ وَأَنتُمۡ أَذِلَّةٞۖ فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ ١٢٣ إِذۡ تَقُولُ لِلۡمُؤۡمِنِينَ أَلَن يَكۡفِيَكُمۡ أَن يُمِدَّكُمۡ رَبُّكُم بِثَلَٰثَةِ ءَالَٰفٖ مِّنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ مُنزَلِينَ ١٢٤ بَلَىٰٓۚ إِن تَصۡبِرُواْ وَتَتَّقُواْ وَيَأۡتُوكُم مِّن فَوۡرِهِمۡ هَٰذَا يُمۡدِدۡكُمۡ رَبُّكُم بِخَمۡسَةِ ءَالَٰفٖ مِّنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ مُسَوِّمِينَ ١٢٥

"Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang  yang lemah. Karena itu bertakwalahkepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (Ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mu'min: 'Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?' Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap siaga, dan mereka datangmenyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda."

Makna Pengulangan Qashash


Al-Qur'an banyak mengungkapkan kisah-kisah yang berulang-ulang di beberapa tempat. Adakalanya suatu kisah di dalam al-Qur'an terulang di tempat dan bentuk yang berbeda. Adapula kisah yang diletakkan di awal dan di akhir. Adapula kisah yang diungkapkan secara ringkas dan ada pula kisah yang di ceritakan secara detil.
Contohnya: Kisah Nabi Musa 'alaihis salam dalam QS.Thaha [20]: 9-14
 وَهَلۡ أَتَىٰكَ حَدِيثُ مُوسَىٰٓ ٩ إِذۡ رَءَا نَارٗا فَقَالَ لِأَهۡلِهِ ٱمۡكُثُوٓاْ إِنِّيٓ ءَانَسۡتُ نَارٗا لَّعَلِّيٓ ءَاتِيكُم مِّنۡهَا بِقَبَسٍ أَوۡ أَجِدُ عَلَى ٱلنَّارِ هُدٗى ١٠  فَلَمَّآ أَتَىٰهَا نُودِيَ يَٰمُوسَىٰٓ ١١ إِنِّيٓ أَنَا۠ رَبُّكَ فَٱخۡلَعۡ نَعۡلَيۡكَ إِنَّكَ بِٱلۡوَادِ ٱلۡمُقَدَّسِ طُوٗى ١٢ وَأَنَا ٱخۡتَرۡتُكَ فَٱسۡتَمِعۡ لِمَا يُوحَىٰٓ ١٣ إِنَّنِيٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدۡنِي وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكۡرِيٓ ١٤
"Dan apakah telah sampai kepadamu kisah Musa?. Ketika dia (Musa) melihat api, lalu dia berkata kepada keluarganya, “Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit nyala api kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu.”. Maka ketika dia mendatanginya (ke tempat api itu) dia dipanggil, “Wahai Musa!. Sungguh, Aku adalah Tuhanmu, maka lepaskan kedua terompahmu. Karena sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, Tuwa. Dan Aku telah memilih engkau, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku."

Kisah itu diulang dalam QS. An-Naml [27]: 7-8.
إِذۡ قَالَ مُوسَىٰ لِأَهۡلِهِۦٓ إِنِّيٓ ءَانَسۡتُ نَارٗا سَ‍َٔاتِيكُم مِّنۡهَا بِخَبَرٍ أَوۡ ءَاتِيكُم بِشِهَابٖ قَبَسٖ لَّعَلَّكُمۡ تَصۡطَلُونَ ٧ فَلَمَّا جَآءَهَا نُودِيَ أَنۢ بُورِكَ مَن فِي ٱلنَّارِ وَمَنۡ حَوۡلَهَا وَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٨
"(Ingatlah) ketika Musa berkata kepada keluarganya, “Sungguh, aku melihat api. Aku akan membawa kabar tentang itu kepadamu, atau aku akan membawa suluh api (obor) kepadamu agar kamu dapat berdiang (menghangatkan badan dekat api).”. Maka ketika dia tiba di sana (tempat api itu), dia diseru, “Telah diberkahi orang-orang yang berada di dekat api, dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam.”.
Demikian pula kisah dalam surah al-Qashash yang bercerita tentang Nabi Musa 'alaihis salam dalam episode yang sama. Pada surah an-Naml [27]: 10-11. 
وَأَلۡقِ عَصَاكَۚ فَلَمَّا رَءَاهَا تَهۡتَزُّ كَأَنَّهَا جَآنّٞ وَلَّىٰ مُدۡبِرٗا وَلَمۡ يُعَقِّبۡۚ يَٰمُوسَىٰ لَا تَخَفۡ إِنِّي لَا يَخَافُ لَدَيَّ ٱلۡمُرۡسَلُونَ ١٠ إِلَّا مَن ظَلَمَ ثُمَّ بَدَّلَ حُسۡنَۢا بَعۡدَ سُوٓءٖ فَإِنِّي غَفُورٞ رَّحِيمٞ ١١
"Dan lemparkanlah tongkatmu!” Maka ketika (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seperti seekor ular yang gesit, larilah dia berbalik ke belakang tanpa menoleh. ”Wahai Musa! Jangan takut! Sesungguhnya di hadapan-Ku, para rasul tidak perlu takut. kecuali orang yang berlaku zhalim yang kemudian mengubah (dirinya) dengan kebaikan setelah kejahatan (bertobat); maka sungguh, Aku Maha Pengampun, Maha Penyayang."
Sedangkan dalam QS. Al-Qashas: [28]: 31
وَأَنۡ أَلۡقِ عَصَاكَۚ فَلَمَّا رَءَاهَا تَهۡتَزُّ كَأَنَّهَا جَآنّٞ وَلَّىٰ مُدۡبِرٗا وَلَمۡ يُعَقِّبۡۚ يَٰمُوسَىٰٓ أَقۡبِلۡ وَلَا تَخَفۡۖ إِنَّكَ مِنَ ٱلۡأٓمِنِينَ ٣١
"Dan lemparkanlah tongkatmu.” Maka ketika dia (Musa) melihatnya bergerak-gerak seakan-akan seekor ular yang (gesit), dia lari berbalik ke belakang tanpamenoleh. (Allah berfirman), “Wahai Musa! Kemarilah dan jangan takut. Sesungguhnya engkau termasuk orang yang aman."
Dari dua contoh kisah di atas terdapat hikmah seperti yang di jelaskan oleh Manna' Khalil al-Qattan dalam kitabnya Mabahits Fi ‘Ulumul Qur'an bahwa hikmah pengulanngan kisah ialah sebagai berikut[4]:
1.      Menjelaskan Ke-balaghah-an Al-Qur'an dalam Tingkat Paling Tinggi.
Di antara keistimewaan balaghah adalah mengungkapkan sebuah makna dalam berbagai bentuk yang berbeda. Kisah yang berulang dengan uslub (gaya bahasa) yang berbeda satu dengan yang lain serta dituangkan dalam pola yang berlainan pula, sehingga tidak membuat orang merasa bosan karenanya bahkan dapat menambah ke dalam jiwanya makna baru yang tidak didapatkan saat membacanya di tempat lain.
2.      Kehebatan Mu'jizat Al-Qur'an.
Al-Qur'an mengemukakan sesuatu makna dalam berbagai bentuk susunan kalimat di mana salah satu bentuk tidak dapat ditandingi oleh sastrawan Arab. Hal itu merupakan tantangan yang luar biasa dan bukti bahwa al-Qur'an itu datangnya dari Allah.
Pengulangan kisah tersebut meskipun dalam episode kehidupan Nabi Musa yang sama akan tetapi berbeda dalam hal pemaparan. Kisah pertama menjelaskan bahwa Nabi Musa ‘alaihis salam berada di tempat yang diberkahi sedangkan kisah kedua menjelaskan bahwa diberkahi orang-orang di tempat itu. Kisah ini terdapat di surat yang berbeda namun kisahnya di tempat yang sama kejadiannya pun sama hanya saja gaya bahasanya yang berbeda.
3.      Memberikan Perhatian Besar Terhadap Kisah Tersebut agar Pesan-Pesannya Lebih Mantap dan Melekat Dalam Jiwa
Hal ini karena pengulangan merupakan salah satu cara pengukuhan dan indikasi betapa besarnya perhatian. Misalnya kisah Nabi Musa 'alaihis salam dengan Fir'aun. Kisah yang menggambarkan secara sempurna pergulatan sengit antara kebenaran dengan kebatilan. Sekalipun kisah itu sering diulang-ulang tetapi pengulangannya tidak pernah terjadi dalam sebuah surat.
4.       Perbedaan Daerah yang Menjadi Tujuan Kisah
Sebagian makna-maknanya dijelaskan di satu tempat karena hanya itulah yang diperlukan sedangkan makna-maknanya dijelaskan di tempat lain sesuai dengan tuntutan keadaan. Kisah pertama menjelaskan perintah Allah kepada Nabi Musa ‘alaihis salam agar jangan takut dan pada kisah kedua di jelaskan bahwa Nabi Musa ‘alaihis salam jangan takut karena ia termasuk orang yang aman. Dua kisah ini di ceritakan di ayat yang berbeda tetapi tujuannya sama.

Relevansi Qashash dan Sejarah


Seperti yang telah diketahui di atas bahwa kisah-kisah dalam al-Qur’an itu memiliki realitas yang diyakini kebenarannya, termasuk peristiwa yang ada di dalamnya. Ia bagian dari ayat-ayat yang diturunkan dari sisi Yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana. Sebagai kitab suci, al-Qur’an bukanlah kitab sejarah, sehingga tidaklah adil jika al-Qur’an dianggap mandul hanya karena kisah-kisah yang ada didalamnya tidak dipaparkan secara gamblang. Akan tetapi berbeda dengan cerita fiksi, kisah-kisah tersebut tidak didasarkan pada khayalan yang jauh dari realitas.
Kisah-kisah dalam al-Qur’an dimaksudkan sebagai sarana untuk mewujudkan tujuannya yang asli, yaitu tujuan keagamaan yang meriwayatkan adanya kebenaran, pelajaran dan peringatan. Al-Qur’an tidak menceritakan kejadian dan peristiwa secara kronologis dan tidak memaparkannya secara terperinci. Hal ini dimaksudkan sebagai peringatan tentang hukum Allah SWT dalam kehidupan sosial serta pengaruh baik dan buruk dalam kehidupan manusia.
Sebagian kisah dalam al-Qur’an merupakan petikan sejarah yang bukan berarti menyalahi sejarah, karena pengetahuan sejarah adalah sangat kabur dan penemuan-penemuan arkeologi sangat sedikit untuk mengungkapkan kisah dalam al-Qur’an dalam kerangka pengetahuan modern.
Kisah tidak bermaksud mengajarkan peristiwa-peristiwa sejarah seperti halnya buku-buku sejarah. Yang sangat dipentingkan oleh kisah al-Qur’an adalah memberi nasehat, bukan mensejarahkan perorangan atau golongan bangsa-bangsa. Relevansi kisah dengan sejarah adalah sebagai berikut:
1.      Kisah-kisah dalam al-Qur’an itu memiliki realitas yang diyakini kebenarannya, termasuk peristiwa yang ada di dalamnya. Ia bagian dari ayat-ayat yang diturunkan dari sisi Yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana.
2.      Kis ah-kisah dalam al-Qur’an dimaksudkan sebagai sarana untuk mewujudkan tujuannya yang asli, yaitu tujuan keagamaan yang meriwayatkan adanya kebenaran, pelajaran dan peringatan.
3   Al-Qur’an tidak menceritakan kejadian dan peristiwa secara kronologis dan tidak memaparkannya secara terperinci. Hal ini dimaksudkan sebagai peringatan tentang hukum Allah SWT dalam kehidupan sosial serta pengaruh baik dan buruk dalam kehidupan manusia.
4.      Sebagian kisah dalam al-Qur’an merupakan petikan sejarah yang bukan berarti menyalahi sejarah, karena pengetahuan sejarah adalah sangat kabur dan penemuan-penemuan arkeologi sangat sedikit untuk mengungkapkan kisah dalam al-Qur’an dalam kerangka pengetahuan modern.

Urgensi Qashash Al-Qur’an


Pembahasan berikut ini berkaitan tentang urgensi dari qashash al- Qur’an atau kisah-kisah yang terdapat dalam al- Qur’an. Urgensi berarti keharusan yang mendesak atau hal yang bersifat sangat penting.[5] Urgensi qashash al-Qur’an berarti hal-hal penting atau pentingnya kisah-kisah pada al-Qur’an. Berikut ini merupakan urgensi kisah-kisah dalam al- Qur’an :
1.      Kisah- Kisah dalam Al-Qur’an Merupakan Kisah yang Paling Benar

Kebenaran suatu kisah adalah metode yang yang sangat menyenangkan dalam menumbuhkan rasa keimanan. Kisah-kisah dalam al-Qur’an merupakan kisah yang paling benar. Seperti yang telah Allah tegaskan dalam firmanya:
نَّحۡنُ نَقُصُّ عَلَيۡكَ نَبَأَهُم بِٱلۡحَقِّۚ…. ١٣
“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar”. (Al- Kahfi [18]:13).

Kisah dalam al-Qur’an bukan merupakan sesuatu yang bersifat khayalan.  Kisah al-Qur’an tidak bisa dianalogikan dengan kisah kesusastraan yang lain, karena semua kisah pada al-Qur’an merupakan fakta nyata dan tidak bersifat tashawwur (pemikiran/imajinasi ). Hal ini selaras dengan perkataan Manna al-Qaththan, seorang muslim yang benar adalah yang mengimani bahwa al-Qur’an itu Kalamullah. Dia suci dari penggambaran seni yang tidak perduli dengan rutinitas sejarah. Kisah- kisah al-Qur’an itu semuanya mengandung fakta sejarah yang yang dilukiskan dengan indah dan menarik.[6] Juga firman-Nya yang berbunyi:
إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡقَصَصُ ٱلۡحَقُّۚ ….٦٢
“Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, (Ali Imran [3]:62).
Allah Subhanahu wa Ta’ala suci dari sifat dusta sehingga Allah tidak mungkin mengisahkan kisah-kisah yang tidak terjadi atas fiktif. Dan Allah Ta’ala mengisahkan satu kisah, berarti kisah itu benar dan diceritakan berdasarkan ilmu.
1.      Kisah- kisah dalam Al- Qur’an menjelaskan asas-asas dakwah menuju ketauhidan dan menjelaskan pokok syariat yang dibawa Nabi
وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ ٢٥
"Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah olehmu sekalianakan Aku". (Al-Anbiya [21]: 25 ).

2.      Kisah- kisah dalam al- Qur’an menjelaskan peneguhan hati terhadap Rasul SAW serta memperkuat mukmin akan menangnya kebenaran dan para pendukungnya serta hancurnya kebatilan dan para pendukungnya. Karena pada hakikatnya sunnatullah akan selalu menolong para Anbiya dan menghancurkan para pendusta.[7]
3.      Kisah-kisah dalam al-Qur’an menjelaskan pembenaran para Nabi terdahulu, penghidupkan kenangan terhadap mereka serta pengabadian jejak dan peninggalannya, juga penampilan kebenaran Muhammad dalam dakwahnya dengan apa yang diberitakannya tentang hal-ihwal orang-orang terdahulu di sepanjang kurun dan generasi.
4.      Kisah-kisah dalam al-Qur’an menjelaskan pengajaran fadhilah-fadhilah akhlaq dari segi contoh perbuatan yang terdapat dalam kisah al-Qur’an, pelarangan akan sifat  keji dan mungkar, serta penjagaan manusia akan perbuatan dosa.
5.      Kisah-kisah dalam al-Qur’an menjelaskan penyingkapan kebohongan ahli kitab dengan cara membeberkan keterangan yang semula mereka sembunyikan, kemudian menentang mereka dengan menggunakan ajaran kitab mereka sendiri yang masih asli, yaitu sebelum kitab itu diubah dan diganti.
6.      Kisah termasuk salah satu bentuk sastra yang dapat menarik perhatian para pendengar mempengaruhi jiwa. Firman Allah:
“Sesungguhnya pada kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.” (Yusuf [12]:111 ).
7.        Kisah-kisah dalam al-Qur’an menjelaskan akan kebaikan atau kecintaan untuk beramal baik di dunia dan nikmat yang tetap di akhirat bagi mukmin yang taat, dan menjauhi amarah Allah serta azabnya di dunia dan akhirat bagi pelaku maksiat.



[1] Shalah al-Khalidy. Kisah-Kisah Al-Qur'an. (Jakarta: Gema Insani, 1999), h. 21-22
[2] Manna Khalil al-Qattan. Mabahits fii 'Ulumul Qur'an. (Mekkah: Darul Ilmi wal Iman), h. 300
[3] Shalah al-Khalidy, h. 17
[4] Manna Khalil al-Qattan, h. 307-308
[5]KBBI, “makna urgensi”, diakses dari https://www.google.com/amp/s/kbbi.web.id/urgensi.html pada tanggal 15 Maret 2019 pukul 09.36.
[6]Manna al-Qaththan, h.. 391
[7]Fadhl Hasan Abbas. 2010. Qishashul Qur’anil Karim. (Darunnafais ), h. 44